Catatan Diri Dalam Kertas

1977-1982
Saya menyimpulkan bahwa seni grafis Indonesia memerlukan terobosan-terobosan yang progresif, kalau perlu melakukan re-definisi, re-interpretasi, dan re-evaluasi terhadap seluruh kerja seni yang memanfaatkan metoda cetak ini, termasuk keterkaitannya dengan berbagai pranata pendukungnya dalam konstelasinya dengan dunia seni rupa kontemporer dan kebudayaan Indonesa secara umum. Kalau tidak, pegrafis-pegrafis kita hanyalah berusaha menumbuhkan sejenis seni rupa cangkokan dari Barat, yang boleh jadi sebetulnya tidak cocok dengan kualifikasi dan aspirasi masyarakat seni dan kebudayaan Indonesia.
(Setiawan Sabana, 1999)

1983-1996
Dari perjalanannya selama kurang lebih 10 tahun di Decenta, ia akhirnya sampai pada periode ketiganya ketika ia sampai pada suatu tingkat kesadaran baru, berupa sikapnya yang melonggar terhadap ikatan-ikatan ketat konsep seni rupa modern. dari perubahan sikapnya sejak itu perjalanan kesenian (grafis) Setiawan Sabana kental memuat aspek keragaman dan nilai-nilai kultural lingkungan sekitar.
(Bambang Subarnas, 2000)

 

1994-2000
Setiawan Sabana tampaknya sudah tidak lagi menghamba pada konsep, teori, atau metode, yang mengikatnya; ia menentukan dirinya sendiri sebagai instrumen utamanya dengan memberi kesempatan kepada orang lain untuk menemukan ruang- ruang baru ; sebuah cara yang menurut saya layak untuk disebut sebagai metodologi artistik.
Sekarang ia sangat induktif, mengikuti kediriannya, menemukan dan merangsang pemikiran- pemikiran baru di dalam berkarya, sambil juga disadari ataupun tanpa disadari ia melakukan upaya- upaya partisipatori dan advokasi dalam masalah- masalah kemanusiaan yang timbul dewasa ini.
( Tjetjep Rohendi Rohidi, 2005)

1997-2010
Tiba-tiba seniman Setiawan Sabana menunjukkan kepada kita bahwa kertas juga memiliki potensi realitas pengalaman nilai yang murni. Seniman ini mengajak kita untuk memasuki pengalaman dengan kertas. Ia tidak memaksakan dunia kesadarannya, meskipun mungkin ia bertolak dari sana, tetapi mewujudkan sesuatu dari kertas itu sendiri. Melalui karya-karya seni kertasnya, ia membuka cakrawala baru tentang sesuatu yang spiritual. Kita diajak mengalami penderitaan, kebahagiaan, kemunafikan, dan kekudusan lewat kertas-kertas.
( Jakob Sumardjo, 2005)

 
2011-2017
Pertemuan awal kami sering menyingkap budaya seni cetak moden. Namun pencarian budaya seni cetak lokal atau menerap tetap diteruskan. Istilah mencari itu membawa pengertian pencarian yang bersungguh sungguh tapi dengan ilmu,itu cara Setiawan Sabana. Saya perhatikan beliau ‘mencari kertas’ dengan seluruh jiwa raga! Penyelidikan beliau membongkar jasad dan roh kertas itu tampa batas dan jauh di luar imaginasi masyarakat amnya.Kertas yang hanya sebagai alas, dibedah hingga tak terlintas punya sejarah dan peranan panjang dalam peradapan manusia. Kertas baginya punya seribu tanggapan dan ramalan yang mungkin jadi nyata.Apakah secara peribadi beliau punya ikatan emosi yang terlalu peribadi dengan kertas kerana dia generasi yang lahir sebelum wujudnya teknologi komputer?
(Juhari Said, 2017)

Dalam upaya “memuseumkan“ kertas, aktivitas kreatif Setiawan dekat dengan kerja seorang arkeolog, dan dalam konteks tertentu sejalan dengan cara antopolog membekukan ingatan artefak kebudayaan . Dengan kalimat lain, Setiawan seperti tengah “mengantropologikan“ peradaban kertas sekaligus pelakunya : manusia. Tidak berlebihan memang , jika studi Setiawan terhadap kertas dipandang sebagai riset lintas disiplin yang keluar masuk antara keilmuan seni rupa, sejarah, arkeologi, kebudayaan, antropologi, dan tindak filosofis.
Dalam konsepsi kebudayaan kertasnya, di mata Setiawan , kertas mengandung kefanaan, ketidakabadian. Suatu saat nanti, mengikuti persepsi Setiawan sendiri, institusi kertas menemukan nasibnya sebagai legenda.
Dalam jangkauan lain, legenda sang kertas ini akan memancing pula akhir dari drama sebuah peradaban dalam kehidupan manusia. Melalui metafora kertas , pameran karya seni rupa Setiawan Sabana ini mengajak kita merenungkan simbol peradaban manusia yang dimulai nun ribuan tahun yang lalu. Kertas adalah obsesi peradaban manusia itu sendiri.
(Aminudin TH Siregar, 2005)